Malang, gomalang.id-Kota Malang baru saja merayakan usianya yang ke-112 dengan penuh suka cita. Namun, kemeriahan tersebut tidak hanya terpusat di Alun-alun atau Balai Kota saja. Di sudut Kecamatan Sukun, tepatnya di Kelurahan Tanjungrejo, warga setempat menciptakan sebuah simfoni budaya yang luar biasa melalui gelaran Tanjung Ketepengan 2 (TKP2) yang berlangsung mulai 2 hingga 4 April 2026.

Acara yang dipusatkan di lingkungan RT 01 RW 02 ini berhasil menyulap gang pemukiman menjadi sebuah destinasi wisata sejarah yang memukau. Dengan tema besar “Gelar Karya Anak Bangsa,” TKP2 bukan sekadar pesta rakyat biasa, melainkan sebuah pernyataan bahwa kreativitas warga lokal mampu menghidupkan kembali memori kolektif masa lalu.

Destinasi Wisata Kuliner dan Budaya “Tempoe Doeloe”

Bagi siapa pun yang melangkah memasuki area acara, atmosfer “Malang Tempoe Doeloe” sangat terasa kental. Aroma harum dari berbagai panganan tradisional langsung menyambut pengunjung. Deretan stan yang berjajar rapi menawarkan ragam kudapan legendaris yang kini mulai langka, seperti:

  • Cenil dan Lupis: Panganan manis dengan taburan kelapa parut dan kucuran gula merah cair.

  • Minuman Tradisional: Jamu dan olahan rempah yang menghangatkan tubuh.

  • Jajanan Pasar: Berbagai olahan singkong dan beras ketan yang menggugah selera.

Menonjolkan Potensi Lokal Lewat Gelar Karya

Khamim, selaku tokoh penggerak sekaligus Ketua RT 01 RW 02 Tanjungrejo, menegaskan bahwa esensi utama dari Tanjung Ketepengan 2 adalah pemberdayaan.

“Kami ingin membuktikan bahwa warga kampung memiliki potensi yang sangat layak diapresiasi. Lewat wadah ini, kuliner hingga seni rupa lokal mendapatkan panggung yang layak,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Tak hanya soal perut, mata pengunjung juga dimanjakan dengan panggung seni yang tak henti-hentinya menampilkan atraksi budaya. Alunan musik tradisional berpadu apik dengan gerakan gemulai para penari yang memanfaatkan lorong-lorong kampung sebagai panggung mereka.

Pameran Keris dan Galeri Seni: Bukti Kreativitas Pemuda

Salah satu daya tarik utama yang membedakan TKP2 dengan festival kampung lainnya adalah kehadiran pameran karya fisik yang artistik. Tahun ini, fokus utama tertuju pada dua hal:

  1. Eksibisi Keris: Koleksi senjata tradisional yang mengagumkan. Uniknya, keris-keris ini merupakan hasil tempaan dan tangan terampil para pemuda Tanjungrejo sendiri, menunjukkan bahwa pelestarian budaya masih berdenyut di nadi generasi muda.

  2. Galeri Seni Rupa: Lorong kampung dihiasi dengan lukisan-lukisan estetik karya seniman lokal. Berbagai aliran lukis ditampilkan, membuktikan bahwa bakat seni tidak hanya lahir di galeri besar, tapi juga di ruang-ruang sempit pemukiman.

Implementasi Semangat “Mbois Berkelas”

Kegiatan ini merupakan manifestasi nyata dari slogan HUT Kota Malang ke-112: “Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas.” Sinergi yang ditunjukkan warga Sukun ini membuktikan bahwa semangat membangun kota dimulai dari unit terkecil, yaitu lingkungan RT dan RW.

Hingga hari penutupan, antusiasme masyarakat Malang Raya yang datang berkunjung tidak kunjung surut. Tanjung Ketepengan 2 telah sukses menjadi oase budaya sekaligus mesin penggerak ekonomi kreatif bagi warga Kelurahan Tanjungrejo. Harapannya, acara seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk terus melestarikan warisan leluhur di tengah arus modernisasi. (Afix)