Kegiatan yang telah berjalan konsisten sejak 2008 ini bukan sekadar seremoni. Di tangan Ketua Umum Kopmen SBW Malang, DR. Sri Untari Bisowarno, M.AP., pendidikan ini menjadi kawah candradimuka bagi para anggota yang terpilih untuk naik kelas menjadi penggerak organisasi.

Memperkuat Akar Ideologi

Membuka rangkaian diklat, Sri Untari tak hanya memberikan sambutan formal. Ia turun langsung membedah ideologi. Bagi Untari, seorang kader PPL harus tuntas dalam memahami dasar negara sebelum bicara teknis ekonomi.

“Kita bicara tentang talenta berkualitas atau stock talent. Mereka adalah barisan yang disiapkan untuk memenuhi kompetensi kebutuhan Kopmen SBW di masa depan,” ujarnya di hadapan para peserta yang merupakan alumnus Pendidikan Kader Koperasi sebelumnya.

Dalam paparannya yang mendalam, Untari menekankan tiga pilar utama: Nilai Pancasila, Jatidiri Koperasi, dan Sistem Tanggung Renteng. Pancasila, dalam pandangannya, bukan sekadar hafalan, melainkan sumber segala hukum dan pandangan hidup yang harus terimplementasi dalam laku berkoperasi.

Filosofi Dua Sisi Mata Uang

Sorotan utama dalam diklat kali ini adalah penguatan kembali Sistem Tanggung Renteng. Di mata Untari, sistem ini adalah ruh bagi Kopmen SBW. Ia mengibaratkan koperasi dan tanggung renteng seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

“Jika ingin menerapkan sistem tanggung renteng, kedua sisinya harus dijalankan dengan seimbang. Di sinilah pentingnya pendidikan; agar anggota paham perannya sebagai pemilik, pengguna, sekaligus pemeran serta,” lanjutnya.

Hadirnya jajaran Pengurus dan Pengawas Kopmen SBW dalam acara ini menegaskan bahwa pengkaderan adalah prioritas kolektif. Pesan yang ingin disampaikan jelas: keberlanjutan koperasi bergantung pada sejauh mana anggotanya menghayati nilai-nilai kolektivitas di tengah gempuran arus individualisme ekonomi.

Menuju Desember 2026

Setelah sesi pendadaran ideologi yang filosofis, kendali teknis beralih ke tangan Kepala Learning Center Kopmen SBW, Deddy Satya Dewanto, S.Sos., MM. Program ini dirancang dengan maraton yang terukur.

Para kader tidak hanya akan mendekam di dalam kelas. Sepanjang tahun hingga Desember 2026, mereka dijadwalkan bertemu dua kali dalam sebulan untuk memadukan teori dan praktik. Salah satu instrumen penting dalam diklat ini adalah magang langsung di pertemuan kelompok anggota.

“Kami ingin mereka merasakan langsung denyut nadi anggota di lapangan,” ungkap Deddy.

Langkah Kopmen SBW Malang ini menjadi potret langka di tengah kelesuan gerakan koperasi nasional. Dengan merawat tradisi pendidikan sejak 18 tahun silam, SBW Malang seolah ingin membuktikan bahwa koperasi yang tangguh lahir dari kader yang tak hanya mahir berhitung, tapi juga teguh memegang prinsip. (RUL)