SURABAYA, gomalang.id – Kompetisi fashion show berbasis budaya, Nusantara On The Runway 2026, kini tengah mendekati puncaknya. Sebagai bagian dari persiapan menuju babak grand final, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Protokol Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) menggelar sesi pembekalan khusus. Fokus utamanya adalah mengasah kemampuan public speaking para finalis agar mereka tidak hanya memukau lewat busana, tetapi juga mampu mengartikulasikan nilai-nilai budaya batik yang mereka bawakan di atas panggung.
Dalam seminar interaktif tersebut, hadir sebagai pemateri utama adalah Neni Zulfatun Nafia Humaira, yang akrab disapa Nafi. Ia memberikan sudut pandang baru mengenai esensi seorang representatif budaya di era modern.
Komunikasi: Kunci Kesan yang Mendalam
Di hadapan para finalis, Nafi menegaskan bahwa penampilan visual yang menawan hanyalah pintu gerbang awal. Kekuatan sejati seorang figur publik atau model budaya terletak pada bagaimana mereka menyampaikan gagasan dan berinteraksi dengan audiens.
“Orang-orang mungkin lupa model baju yang kalian tampilkan, tapi mereka akan lebih lama mengingat apa yang pernah kalian sampaikan,” ungkap Nafi menekankan pentingnya komunikasi verbal.
Menurutnya, baju seindah apa pun bisa memudar dari ingatan dalam hitungan hari. Namun, pesan yang kuat, edukatif, dan disampaikan dengan penuh ketulusan akan terus melekat di benak penonton dan dewan juri dalam waktu yang lama.

Fondasi Utama Public Speaking
Bagi Nafi, mahir berbicara di depan umum bukanlah bakat alami yang muncul tanpa usaha. Ia membagikan formula utama dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan public speaking, yaitu mengombinasikan dua fondasi penting:
-
Wawasan dan Pengetahuan: Nafi mengajak para peserta untuk terus meningkatkan literasi digital maupun konvensional. Memahami filosofi batik yang dipakai adalah modal utama agar pesan yang disampaikan memiliki bobot nilai.
-
Jam Terbang dan Pengalaman: Teori saja tidak cukup. Para finalis didorong untuk berani mengambil peluang, memperluas relasi, dan terus berlatih di berbagai kesempatan.
Suasana seminar berjalan sangat dinamis dan interaktif. Salah satu kutipan motivasi dari Nafi yang paling membekas bagi para peserta adalah: “Seseorang perlu diperah agar mahir dalam berkiprah.” Kalimat pemantik semangat ini bahkan viral di media sosial setelah banyak finalis membagikannya di akun pribadi mereka sebagai bentuk apresiasi.
Komitmen Berbagi Ilmu di Kampus UWKS
Kehadiran Nafi dalam seminar Nusantara On The Runway 2026 ini bukanlah momen pertamanya berkolaborasi dengan civitas akademika UWKS. Ini merupakan kali kedua ia dipercaya menjadi mentor pengembangan kapasitas mahasiswa di kampus tersebut.
Sebelumnya, Nafi sukses menjadi narasumber dalam seminar personal branding yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Matematika UWKS. Konsistensinya dalam mengedukasi generasi muda menunjukkan komitmennya yang kuat dalam dunia pengembangan diri dan komunikasi.
Pengalaman Lebih Berharga daripada Trofi
Sebagai penutup sesi yang penuh inspirasi, Nafi memberikan pesan bijak agar para finalis tidak terjebak pada ambisi semu untuk sekadar mengejar status juara atau gelar formal. Ia mengingatkan bahwa esensi dari sebuah kompetisi adalah transformasi diri menjadi pribadi yang lebih berkualitas.
“Trophy dan penghargaan itu bisa berdebu dalam hitungan minggu, tapi pengalaman yang kalian dapatkan akan bertahan sampai berpuluh-puluh windu,” pungkasnya.
Melalui pembekalan intensif ini, para finalis Nusantara On The Runway 2026 diharapkan tidak hanya siap memperebutkan mahkota juara, tetapi juga siap menjadi duta budaya yang mampu menyuarakan kekayaan warisan nusantara dengan penuh percaya diri ke kancah yang lebih luas. (Dnl)





