Acara bertajuk Malang Green Future ini menghadirkan praktisi lingkungan Ali Murtopo dan akademisi kimia Dr. Elly untuk membedah solusi nyata atas krisis limbah di Jawa Timur.

Dari Limbah Jadi Rupiah

Ali Murtopo memukau 150 undangan yang hadir dengan menunjukkan bahwa sampah, jika dikelola dengan benar, memiliki nilai ekonomi tinggi. Ia memamerkan berbagai produk hasil olahan limbah organik dan non-organik, antara lain:

  • Kompos (padat & cair) dan Eco-Enzyme.

  • Maggot untuk pakan ternak berkualitas.

  • Briket setara batu bara.

  • Bahan bakar cair dengan kandungan sejenis solar.

“Mengolah sampah tidak hanya menyelamatkan bumi, tapi juga mendatangkan keuntungan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Ali.

Tantangan TPA Supit Urang

Meski potensi pengolahan besar, Ali menyoroti kendala infrastruktur di TPA Supit Urang. Saat ini, kapasitas sampah baru mencapai 750 ton per hari, sementara syarat minimal untuk menjalankan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) adalah 1.000 ton per hari di satu titik.

Isu ini selaras dengan Rakornas Darurat Sampah yang tengah dipimpin Presiden Prabowo guna memastikan tumpukan sampah nasional bertransformasi menjadi sumber daya energi.

Sri Untari: Pilah Sampah Mulai dari Rumah

Sri Untari menekankan bahwa kunci utama perubahan ada pada budaya rumah tangga. Mengingat 90% TPA di Indonesia masih menggunakan sistem dumping yang memicu bau busuk, air lindi, hingga sumber penyakit, tindakan tegas harus diambil.

“Kita tidak boleh tutup mata. Saat ini Indonesia darurat sampah. Mari kuatkan budaya pilah sampah dari rumah dan kantor. Pisahkan organik, anorganik, hingga limbah B3,” tegas Sri Untari.

Sosialisasi yang berlangsung selama dua jam ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk menjaga kualitas udara dan lingkungan Malang, ditutup dengan sesi berbuka puasa bersama. (Rul)