Malang, Gomalang.id – Keberadaan seni tradisi kini tidak sekadar berfungsi sebagai warisan leluhur, melainkan juga bertransformasi menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Hal ini terlihat jelas di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Kedungkandang, Kota Malang. Pada akhir Agustus 2026, puluhan anak berkebutuhan khusus dari 13 SLB se-Malang Raya berkumpul untuk mengasah kreativitas, menumbuhkan rasa percaya diri, serta menyuarakan kesetaraan lewat seni topeng Malangan.
Perjalanan Seni Inklusif Malang Raya
Kegiatan bertajuk Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel ini merupakan puncak dari program kebudayaan berkelanjutan yang berjalan sejak pertengahan Mei 2026. Berkat dukungan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan (Kategori Dukungan Institusi 2025), Sanggar Budaya Anak Nareswari dan Yayasan D’Mart Thithiek Tenger merancang rangkaian proses kreatif yang konsisten bagi para peserta.
Mei 2026 Pelatihan membatik & pembuatan sampur bersama Universitas Ciputra Surabaya
Juni 2026 Proses pembuatan struktur fisik topeng Malangan
Juli 2026 Pelatihan teknik melukis topeng
Agustus 2026 Puncak acara: Lomba seni, parade tari, dan pameran UMKM
Ndaru Lazarus, selaku Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Yayasan D’Mart Thithiek Tenger, menegaskan bahwa seni memiliki kekuatan lintas batas untuk mempertemukan berbagai kalangan sekaligus mendorong kemandirian para difabel.

Semangat Hari Pertama: Pendaulatan Bunda Disabilitas
Hari pertama acara diisi dengan berbagai perlombaan antar-SLB, mulai dari mewarnai, melukis topeng 3D, hingga parade tari.
“Seni dan budaya menjadi media untuk mempertemukan berbagai latar belakang sekaligus membangun kemandirian.”
— Ndaru Lazarus, Ketua Yayasan D’Mart Thithiek Tenger
Salah satu momen kunci pada acara ini adalah pendaulatan Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP. (Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur) sebagai Bunda Disabilitas oleh Lembaga SLB se-Malang Raya. Prosesi penyerahan penghargaan dipimpin oleh pembina yayasan, Ki Djoko Rendi.
Dalam penjelasannya, Sri Untari menekankan bahwa Komisi E DPRD Jatim tengah mematangkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Disabilitas guna menjamin pemenuhan hak-hak difabel, termasuk perluasan kesempatan kerja di sektor swasta. Ia juga menyempatkan diri mengapresiasi karya peserta dengan membeli berbagai produk di 13 stan UMKM milik SLB.

Acara hari pertama ditutup secara khidmat melalui pemotongan tumpeng, yang diserahkan kepada Ki Djoko Rendi dan Bunda Maria Carmela Nur Indri Hariani selaku pengelola Sanggar Budaya Anak Nareswari.
Hari Kedua: Kolaborasi Budaya dan Masyarakat Umum
Pada hari kedua, ruang berkarya dibuka lebar untuk masyarakat umum guna mendorong interaksi sosial yang makin inklusif.
Perlombaan Umum: Lomba diamond painting tingkat TK, melukis topeng 3D (SD–SMA), serta lomba membatik umum.
Bazaar UMKM: Dimeriahkan 20 pelaku UMKM, gabungan dari Forum Disabilitas Kelurahan Bumiayu dan SLB se-Kabupaten Malang.
Pertunjukan Lintas Generasi: Penampilan Tari Gandrung oleh Karang Taruna Bumiayu serta lantunan tembang-tembang Jawa (Gugur Gunung, Kuwi Opo Kuwi, hingga Bersih Deso) oleh kelompok Karawitan Wibisono Laras Budoyo yang beranggotakan para lansia.

Daftar Peraih Prestasi
Ajang ini juga melahirkan berbagai bakat muda potensial dari kategori sekolah luar biasa:
| Kategori Lomba | Juara 1 | Juara 2 | Juara 3 |
| Mewarnai SD-LB | Zikal Vegan A. (SLB Bimantara) | Bima (SLB Putra Harapan) | Arimbi Ayu (SLB Al Firma’una) |
| Mewarnai SMP-LB | Atiqa Bilqis (SMPN 17 Inklusi) | Dinda Ayu (SLB BC PGRI) | Yusuf R. (SLB Pembina) |
| Melukis Topeng 3D SMA-LB | A. Dzalikal D. (SLB PGRI) | Vinsa (SLB DW 03 Turen) | Sera S. (SLB Idayu 2) |
| Parade Tari | SLBN Pembina Tingkat Nasional C | SLB Putra Harapan | SLB Dharma Wanita 03 Turen |
Kebudayaan sebagai Ruang Kesetaraan
Rangkaian acara ditutup dengan Sarasehan Budaya dan Sejarah Topeng Malang bersama sejarawan Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum. Diskusi ini mempertegas kembali hubungan historis antara identitas Topeng Malang dan nilai-nilai kebersamaan yang terus dihidupkan hingga kini.
Melalui kolaborasi lintas pihak—mulai dari Dinas Kebudayaan Jatim, DPRD, Dinsos Kota Malang, pelaku usaha, hingga komunitas seni lokal—Griya Kriya Topeng Ramah Difabel berhasil membuktikan bahwa topeng Malangan kini memegang peran baru: sebagai simbol keberanian, kemandirian, dan kesetaraan bagi anak-anak difabel.
Penulis: Putri








