Program inspiratif ini terealisasi berkat pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan tahun 2025 untuk kategori dukungan institusional lembaga kebudayaan. Kegiatan ini juga disokong penuh oleh Kementerian Kebudayaan, Kementerian Perhubungan, LPDP, serta Dana Indonesiaraya.

Pendekatan Khusus dan Ramah Motorik

Pelatihan yang diikuti oleh 15 anak difabel secara gratis ini dirancang agar sepenuhnya inklusif. Sanggar Nareswari mendatangkan Mbak Sita, seorang instruktur sekaligus asesor batik dari LSP Batik Semarang, untuk memandu para peserta.

Mengajar anak-anak berkebutuhan khusus tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda. Mbak Sita menjelaskan beberapa penyesuaian yang dilakukan di lapangan:

  • Metode Sederhana: Fokus pada pengenalan dasar batik dan pembuatan motif yang disesuaikan dengan kapasitas motorik masing-masing anak.

  • Keamanan Terjamin: Proses penggunaan malam panas dan alat canting telah dimodifikasi sedemikian rupa agar tetap aman.

  • Tanpa Hambatan Bahasa: Kendala komunikasi di lapangan dapat teratasi dengan baik berkat bantuan dari tim penerjemah.

Seni Sebagai Media Komunikasi yang Jujur

Bendahara panitia, Brelliane Semesta Pratiwi, menekankan bahwa keterbatasan verbal bukanlah penghalang untuk berkarya. Seni justru menjadi ruang berekspresi yang paling jujur bagi anak-anak difabel yang menyimpan potensi luar biasa.

“Kami ingin memberikan keterampilan yang punya nilai jual, sehingga bisa dipraktikkan secara mandiri di rumah. Hasil karya mereka nantinya akan dikolaborasikan untuk dipamerkan di berbagai ruang publik seperti Merkur atau Krida Budaya,” ujar Brelliane.

Aksi sosial ini juga menarik perhatian dunia akademik. Perwakilan dari Program Studi Fashion Design and Business Universitas Ciputra Surabaya turut hadir untuk membantu dokumentasi sekaligus mengampanyekan kesadaran inklusif kepada masyarakat luas.

Menuju Acara Puncak Agustus 2026

Pelatihan membatik ini barulah langkah awal dari rangkaian program yang telah disiapkan oleh panitia. Berikut adalah agenda seru yang akan datang:

  1. Juni: Pelatihan membuat topeng.

  2. Juli: Pelatihan melukis topeng.

  3. SABTU, 1 AGUSTUS 2026: Acara puncak festival yang akan dimeriahkan dengan parade tari, pertunjukan sendratasik, hingga bazar UMKM.

Melalui inisiatif ini, Sanggar Nareswari berharap ruang gerak yang ramah difabel bisa semakin meluas di masyarakat. Sebab, setiap anak memiliki hak yang sama untuk berekspresi, berkarya, dan menunjukkan potensi terbaik mereka.(Ptri)