Malang, Gomalang.id — Upaya membangun budaya olahraga sejak usia dini terus didorong melalui berbagai kegiatan yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Salah satunya melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek) yang diikuti para guru sebagai persiapan menjadi fasilitator dalam kegiatan olahraga dan aktivitas kebugaran bagi anak-anak.
Salah seorang peserta bimtek, Ibu Luluk Rusmita, yang berprofesi sebagai guru SMP Negeri di Malang, mengatakan dirinya mengikuti kegiatan tersebut dalam rangka mempersiapkan diri sebagai fasilitator kegiatan yang akan dilaksanakan bagi siswa SD dan SMP.
“Nama saya Luluk Rusmita, profesi saya guru. Saya di sini dalam rangka mengikuti bimtek Kemenpora. Besok kami menjadi fasilitator untuk games-games dan ada pengukuran untuk anak SD dan SMP,” ujar beliau.
Menurut Ibu Luluk, kegiatan yang akan dilaksanakan tidak hanya berisi permainan atau fun games, tetapi juga mencakup pengukuran terhadap kondisi fisik dan karakteristik tubuh peserta. Pengukuran tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu dasar untuk mengenali potensi olahraga yang sesuai bagi setiap anak.

Beliau menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk mengenalkan olahraga dengan cara yang menyenangkan kepada anak-anak. Para fasilitator nantinya akan membantu mengondisikan peserta agar dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik.
“Bimtek ini untuk bagaimana mengondisikan anak-anak mengikuti kegiatan besok. Besok ada pengukuran, kemudian ada fun games. Intinya anak-anak senang dan menikmati kegiatan,” ujar beliau.
*Melibatkan Kemenpora*
Terkait penyelenggaraan kegiatan, Ibu Luluk mengatakan dirinya bukan bagian dari kepanitiaan sehingga tidak mengetahui secara keseluruhan mengenai teknis penyelenggaraannya. Namun, berdasarkan informasi yang diterimanya, kegiatan tersebut melibatkan Kemenpora dan pihak Malang Boys.
“Kalau yang Malang Boys yang saya tahu. Kemudian Kemenpora masuk, ada event ini. Saya bukan panitia, jadi tidak begitu tahu banyak,” ujar beliau.
Sementara mengenai waktu pelaksanaan, peserta masih menunggu informasi lebih lanjut dari panitia melalui grup komunikasi yang telah disediakan. Berdasarkan undangan awal, kegiatan dijadwalkan mulai pukul 10.00 WIB, tetapi terdapat kemungkinan waktu pelaksanaan berubah menjadi lebih siang dan berlangsung hingga sore hari.
“Kami masih menunggu informasi dari panitia. Kalau sesuai undangan jam 10, tetapi tadi ada informasi kemungkinan mundur, mungkin bisa siang sampai sore,” ujar beliau.
*Membangun Budaya Olahraga Sejak Dini*
Lebih jauh, Ibu Luluk menyampaikan harapannya agar kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, bahkan menjadi agenda rutin setiap tahun.
Menurut beliau, pembinaan olahraga seharusnya dimulai sejak usia sekolah. Anak-anak pada jenjang SD dan SMP merupakan kelompok penting dalam membangun kebiasaan hidup aktif sekaligus menggali potensi olahraga mereka.
“Kalau dulu ada istilah memasyarakatkan olahraga dan memolahragakan masyarakat. Sekarang harapannya orang menjadi aktif. Fundamentalnya ada di usia SD dan SMP,” ujar beliau.
Beliau menilai usia anak-anak merupakan masa penting untuk mengenali potensi dan minat mereka terhadap olahraga. Terlebih bagi anak yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi atlet berprestasi di masa depan.
Dalam proses tersebut, menurut Ibu Luluk, terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Pertama adalah menggali potensi anak. Kedua, mengetahui minat atau ketertarikan anak terhadap cabang olahraga tertentu. Selanjutnya, kondisi fisik dan karakteristik tubuh juga perlu diperhatikan.
Pengukuran seperti tinggi badan, berat badan, hingga panjang rentang lengan dapat memberikan gambaran mengenai karakteristik fisik seorang anak. Data tersebut kemudian dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan cabang olahraga yang kemungkinan sesuai dengan karakteristik dan potensinya.
“Misalnya tinggi badannya berapa, berat badannya berapa, panjang rentang lengannya berapa. Dari situ nanti bisa dilihat, oh ini cocoknya olahraga ini. Kemudian kita lihat minatnya, apakah sesuai dengan bentuk dan struktur tubuhnya,” ujar beliau.
Menurut beliau, pendekatan seperti itu penting agar anak tidak sekadar diarahkan untuk mengikuti olahraga tertentu, tetapi benar-benar mendapatkan kesempatan untuk mengenali potensi dan minatnya sendiri.
*Olahraga Bukan Sekadar Syarat, tetapi Kebutuhan*
Ibu Luluk berharap kegiatan olahraga di lingkungan sekolah maupun masyarakat ke depan tidak hanya dipandang sebagai kewajiban atau sekadar memenuhi suatu persyaratan. Lebih dari itu, olahraga diharapkan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Harapannya olahraga bukan menjadi syarat, tetapi menjadi budaya, menjadi kebutuhan,” ujar beliau.
Beliau menilai apabila kebiasaan berolahraga telah dibangun sejak usia SD dan SMP, maka anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang lebih aktif dan memiliki kesadaran terhadap pentingnya menjaga kebugaran tubuh.
Kegiatan yang memadukan pengukuran, permainan, edukasi, dan aktivitas fisik juga dinilai dapat menjadi pendekatan yang lebih menyenangkan bagi anak. Dengan demikian, olahraga tidak dipersepsikan sebagai sesuatu yang berat atau membosankan, melainkan sebagai kegiatan yang menyenangkan sekaligus bermanfaat.
Melalui kegiatan bimtek dan pelaksanaan aktivitas olahraga bagi anak-anak tersebut, para guru dan fasilitator diharapkan mampu menciptakan suasana yang positif sehingga peserta dapat mengikuti kegiatan dengan antusias.
Bagi Ibu Luluk, semangat dalam menggerakkan anak-anak untuk aktif berolahraga juga merupakan bagian dari tanggung jawab seorang guru.
“Harus dong. Setiap hari harus semangat,” ujar beliau.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah konkret dalam membangun kesadaran olahraga sejak usia dini, sekaligus membuka ruang bagi anak-anak untuk mengenali potensi, minat, dan kemampuan fisik mereka. Dengan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, olahraga diharapkan tidak hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga membentuk masyarakat yang aktif dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari budaya kehidupan sehari-hari.
Penulis : Putri, Aisyah & Naya







