Merawat Tradisi Arema: Polresta Malang Kota Bersama Kampus Dorong Boso Walikan Jadi Warisan Tertulis

Malang, Gomalang.id – Upaya menjaga eksistensi identitas kultural di tengah arus modernisasi terus digelorakan di Kota Malang. Belum lama ini, Polresta Malang Kota mengambil langkah strategis dengan menggandeng dunia pendidikan tinggi untuk memperkuat pelestarian tradisi lokal. Melalui gelaran Deklarasi Pelestarian Budaya Lokal yang dipusatkan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), aparat kepolisian bersama akademisi sepakat untuk melindungi kekayaan budaya khas Malang Raya agar tidak tergerus zaman.

Langkah kolaboratif ini dinilai sangat krusial mengingat Malang dikenal sebagai kota pelajar yang setiap tahunnya kedatangan ribuan mahasiswa baru dari berbagai penjuru Nusantara. Kehadiran para pendatang ini membawa warna multikultural yang dinamis. Oleh karena itu, pengenalan budaya lokal sejak dini menjadi jembatan penting untuk mempercepat proses adaptasi serta akulturasi positif antara masyarakat asli dan para pendatang.

Sinergi Lintas Sektor untuk Merawat Identitas Lokal

Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno, dalam keterangannya menyampaikan bahwa gerakan ini murni lahir dari kesadaran kolektif terhadap potensi luar biasa yang dimiliki Malang Raya. Menurutnya, kawasan ini bukan sekadar pusat pendidikan tinggi yang mencetak generasi intelektual, tetapi juga menyimpan kekayaan seni, tradisi, prestasi olahraga, hingga karakter sosial kemasyarakatan yang khas.

Ia menekankan bahwa seluruh potensi tersebut harus dirawat dan dikembangkan secara berkesinambungan. Keberagaman latar belakang para pendatang di Malang Raya tidak seharusnya menjadi jurang pemisah, melainkan modal sosial yang kuat untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai kebhinekaan.

Lebih lanjut, inisiatif ini dirancang agar tidak berhenti pada seremoni deklarasi atau seminar semata. Polresta Malang Kota bertekad mendorong implementasi pelestarian budaya yang berkelanjutan di seluruh perguruan tinggi yang ada di wilayah Malang Raya, melibatkan sinergi erat antara pemerintah daerah, akademisi, budayawan, hingga elemen masyarakat.

Menyelamatkan Boso Walikan Melalui Dokumentasi Buku

Salah satu fokus utama dalam program pelestarian jangka panjang ini adalah penyelamatan Boso Walikan—bahasa khas kebanggaan masyarakat Malang yang memiliki keunikan struktur dan sejarah sosial yang mendalam. Bahasa terbalik ini telah lama menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari Arek Malang.

Untuk memastikan warisan lisan tersebut tetap hidup dan tidak punah dimakan usia, Polresta Malang Kota berencana merintis kerja sama lintas sektor guna mendokumentasikan Boso Walikan ke dalam bentuk karya tulis resmi, yakni sebuah buku panduan atau literatur khusus. Dengan adanya dokumentasi tertulis ini, generasi masa depan dan para pendatang dapat mempelajari asal-usul, kaidah, serta makna filosofis di balik penggunaan bahasa tersebut secara sistematis.

Membangun Keamanan Lewat Pendekatan Kultural

Pelestarian budaya lokal dipandang bukan sekadar upaya estetis untuk menjaga tradisi, melainkan instrumen penting dalam membangun kohesi sosial. Dengan menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap identitas daerah, masyarakat—khususnya kalangan muda—diharapkan memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap lingkungan sekitar.

Polresta Malang Kota optimis bahwa penguatan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan penghormatan terhadap kearifan lokal akan berdampak langsung pada terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Lingkungan sosial yang kondusif, aman, dan nyaman di Malang Raya hanya dapat terwujud secara optimal apabila seluruh elemen masyarakat—mulai dari kepolisian, pemerintah, kampus, hingga komunitas budaya—berjalan seiring sejalan dalam menjaga marwah tradisi daerah. (Isp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait