GOMALANG.ID, WAGIR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang terus memacu percepatan penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) demi meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah. Komitmen tersebut ditegaskan secara langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Dr. Ir. Budiar Anwar, M.Si., saat menghadiri rangkaian perayaan Bersih Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Minggu (23/8/2026) malam.
Hadir mewakili Bupati Malang, pejabat pimpinan tinggi pratama yang dikenal ramah dan murah senyum itu memanfaatkan momentum tradisi kebudayaan warga desa untuk menyosialisasikan program strategis daerah secara langsung dari atas panggung pagelaran wayang kulit.

Target 1.600 Unit RTLH dan Inovasi Bantuan ‘Aladin’
Dalam pidato sambutannya, Budiar Anwar mengapresiasi tinggi konsistensi warga Desa Pandanlandung dalam merawat tradisi luhur Bersih Desa. Ia menekankan bahwa pelestarian budaya lokal harus berjalan seiring dengan upaya pembangunan sosial-ekonomi masyarakat.
Poin utama yang disampaikan Sekda adalah akselerasi program Bedah Rumah Pemkab Malang pada tahun anggaran 2026. Tahun ini, Pemkab Malang mematok target renovasi fisik untuk lebih dari 1.600 unit RTLH yang tersebar di pelbagai pelosok kecamatan di Kabupaten Malang.
“Program bedah rumah Pemkab Malang ini sangat penting untuk dipahami oleh seluruh warga, termasuk warga Desa Pandanlandung. Bantuan ini kita fokuskan untuk perbaikan dan renovasi komponen ‘Aladin’. Tahu tidak apa itu Aladin? Aladin adalah singkatan dari Atap, Lantai, dan Dinding,” paparnya di hadapan ratusan warga yang memadati arena pertunjukan.
Fleksibilitas Pengajuan dan Besaran Bantuan Stimulan
Budiar menerangkan lebih terperinci mengenai mekanisme teknis pengajuan bantuan Aladin tahun ini. Jika pada program-program sebelumnya syarat penerima bantuan terkesan kaku, kini Pemkab Malang memberikan fleksibilitas penuh agar warga yang benar-benar membutuhkan dapat tersentuh bantuan secara cepat.
“Mulai tahun ini, warga diizinkan mendaftar dan mengajukan bantuan stimulan meskipun kerusakan fisik rumah hanya terjadi pada salah satu komponen Aladin saja, misalnya hanya bagian atap yang bocor parah atau lantai yang masih berupa tanah. Tidak harus rusak total ketiganya baru dibantu,” tegas mantan Kepala Dinas Cipta Karya tersebut.
Adapun besaran bantuan stimulan yang dialokasikan bervariasi bergantung pada skema anggaran pendanaan, dengan kisaran nominal standar renovasi mencapai Rp20 juta hingga Rp25 juta per unit rumah. Bantuan ini difokuskan penuh bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) agar dapat mendiami hunian yang layak, sehat, dan aman.

Sinergi Lintas Sektor dan Pemangkasan Masa Tunggu
Guna memastikan program berjalan transparan dan tepat sasaran, pelaksanaan di lapangan dikoordinasikan secara intensif oleh Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang. Penentuan calon penerima bantuan diverifikasi ketat berbasis data terpadu desil kesejahteraan rendah.
Keberhasilan program dengan target 1.600 unit rumah ini juga ditopang oleh skema kolaborasi pendanaan yang inklusif. Realisasi pendanaan tidak hanya mengandalkan APBD Kabupaten Malang, melainkan memadukan sinergi APBN, pendayagunaan dana Baznas, alokasi Corporate Social Responsibility (CSR) dari dunia usaha, serta tradisi gotong royong warga setempat.
Selain fleksibilitas komponen kerusakan, aturan tata cara bantuan tahun 2026 juga membawa angin segar terkait masa jeda pengajuan. Sesuai aturan terbaru, masa tunggu bagi warga yang pernah menerima bantuan dipangkas cukup signifikan—dari semula 10 tahun kini diperpendek menjadi 5 tahun saja.
Budiar menegaskan pentingnya komunikasi aktif antara pemerintah daerah dan pemerintah desa demi mengawal ketepatan penerima manfaat di tingkat tapak.
“Terkait realisasi program bedah rumah Aladin ini, nanti kami koordinasikan dan komunikasikan lebih lanjut dengan Pak Hari selaku Pj Kepala Desa Pandanlandung. Beliau ini dulu pernah satu kantor dengan saya sewaktu di Dinas Cipta Karya,” tandas Budiar, yang disambut tepuk tangan riuh (applause) dari seluruh penonton.
Kehangatan Interaksi dengan Warga
Di sela-sela penyampaian materi program Pemkab Malang, suasana di atas panggung berlangsung hangat dan interaktif. Sekda Budiar Anwar menyapa warga secara cair dengan memberikan kuis dadakan dari atas panggung.
“Siapa yang tahu nama lengkap Sekda Kabupaten Malang?” tanya Budiar.
Seorang warga wanita bernama Nurul, yang merupakan ibu dari tiga anak, tampak antusias naik ke atas panggung dan menjawab singkat, “Pak Budiar!”
Atas jawaban tepat tersebut, Budiar langsung memberikan apresiasi berupa hadiah tunai di tempat sebagai bantuan uang belanja. Gestur ramah pejabat Pemkab ini disambut gelak tawa dan sorak gembira dari warga Pandanlandung.
“Budiar itu nama saya, yang secara filosofis dapat diartikan sebagai ‘Bunga Di atas Air’. Dan sebagai penutup: Jalan-jalan dengan Aura Kasih, demikian sambutan saya, terima kasih,” pukas Budiar dengan pantun jenaka yang menyegarkan suasana malam kebudayaan tersebut.
Usai memberikan pengarahan, Sekda Budiar Anwar turun dari panggung utama dan bergabung duduk lesehan bersama Camat Wagir, Pj Kades Pandanlandung, serta tokoh masyarakat setempat. Rombongan pejabat Pemkab Malang turut menyimak dan menikmati pertunjukan wayang kulit yang dibawakan dalang ternama Ki Tantut Sutanto bersama bintang tamu pesinden kondang Niken Salindri hingga usai. (Rul)







