MALANG, gomalang.id – Di tengah gempuran tren modernisasi, SMAN 6 Kota Malang mengambil langkah nyata untuk menjaga akar budaya bangsa. Melalui gelaran bertajuk Javaheksa yang dihelat pada 21 April 2026, sekolah ini sukses menyatukan semangat Hari Kartini dengan misi penguatan karakter siswa berbasis kearifan lokal Jawa.

Kegiatan yang berlangsung meriah ini mendapatkan apresiasi tinggi, baik dari orang tua siswa maupun tokoh masyarakat setempat. Javaheksa dinilai bukan sekadar seremoni, melainkan wadah edukasi nilai dan norma kesantunan bagi generasi Z.
Menurut penuturan Ernawati Kartika, ada alasan kuat mengapa atmosfer kompetisi kemarin terasa begitu berbobot. Ternyata, sosok-sosok yang duduk di kursi penjurian adalah mereka yang pernah menyandang gelar Kakang Mbakyu Kota Malang. Dengan menghadirkan juri yang merupakan eks-pemenang, diharapkan estafet kepemimpinan dan standar kualitas duta wisata Kota Malang tetap terjaga dan relevan dengan perkembangan zaman.

Menjawab Tantangan Degradasi Etika
Kepala SMAN 6 Kota Malang, Ernawati, S.Pd, M.M., menekankan pentingnya pemahaman budi pekerti dalam berkomunikasi. Ia menyoroti fenomena mulai terkikisnya penggunaan bahasa yang santun kepada orang tua akibat pengaruh tren komunikasi digital.
“Dalam budaya Jawa, panggilan ‘Bapak’ dan ‘Ibu’ memiliki nilai kesantunan yang dalam. Kita memiliki tingkatan bahasa—Ngoko, Kromo, dan Kromo Inggil—yang melatih siswa untuk menempatkan diri dengan hormat kepada yang lebih tua,” jelas Ernawati dalam sambutannya.
Kembalinya Tradisi Pasca-Pandemi
Program Javaheksa sebenarnya telah diinisiasi sejak tahun 2019. Sempat vakum akibat pandemi COVID-19, tahun ini menjadi momentum kebangkitan kreativitas siswa dalam balutan busana tradisional.

Salah satu sorotan utama adalah kompetisi Sinjang. Para siswa ditantang untuk mengeksplorasi penggunaan kain batik panjang (jarik) yang dipadukan dengan kebaya atau busana adat pria. Fokusnya bukan hanya pada estetika, tapi juga cara memakai dan membawakan diri dalam busana tersebut.
Kolaborasi Akademik: Putra Putri Semarikheksa (PPS)
Kemeriahan Javaheksa juga diramaikan dengan pemilihan Putra Putri Semarikheksa (PPS). Uniknya, ajang ini melibatkan pihak profesional dari Universitas Merdeka (Unmer) Malang sebagai dewan juri.

Beberapa poin penting dalam penilaian PPS meliputi:
-
Bimbingan Intensif: Para finalis menjalani pembekalan di kampus Unmer selama beberapa hari.
-
Uji Literasi Budaya: Penilaian tidak terbatas pada penampilan fisik, tetapi juga pemahaman tentang karakter dan perilaku sesuai pakem budaya Jawa.
-
Aksi Panggung: Kemampuan retorika dan pembawaan diri yang mencerminkan identitas pelajar beradab.
Sinergi UMKM dan Peran Orang Tua
Kejutan manis datang dari antusiasme orang tua siswa. Meski awalnya sekolah tidak mewajibkan keterlibatan wali murid secara penuh, pihak Komite dan Paguyuban Orang Tua justru berinisiatif menggelar bazar UMKM.
Aneka kuliner tradisional Jawa disajikan dengan apik, menambah nuansa autentik dalam acara tersebut. Ernawati menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan luar biasa dari para orang tua yang turut menyukseskan acara ini secara swadaya. (Rul)





