Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, dalam pidatonya menegaskan bahwa angka 112 tahun bukanlah sekadar deretan digit dalam kalender birokrasi. Bagi politisi perempuan dari Fraksi PDI Perjuangan ini, peringatan hari jadi adalah sebuah cermin besar untuk melihat kembali rekam jejak masa lalu guna merumuskan masa depan daerah yang lebih presisi.

“Peringatan HUT ke-112 Kota Malang harus dimaknai sebagai refleksi sejarah sekaligus penguat semangat dalam mendorong pembangunan daerah yang selaras dengan tujuan pembangunan nasional,” ujar Amithya dengan nada tegas di hadapan peserta sidang.
Sejarah sebagai Kompas Jati Diri
Amithya menyoroti pentingnya literasi sejarah bagi masyarakat, terutama generasi muda. Ia berpendapat bahwa pemahaman sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan adalah fondasi utama dalam membangun jati diri sebuah kota. Tanpa akar sejarah yang kuat, pembangunan fisik sehebat apa pun akan kehilangan marwah dan jiwa aslinya.
Menurutnya, sejarah Kota Malang adalah narasi panjang tentang daya lenting (resilience) dan kolaborasi. Perjalanan hingga usia satu abad lebih ini disebutnya sebagai akumulasi dari kerja keras lintas generasi—mulai dari para pemimpin terdahulu, tokoh masyarakat, hingga partisipasi aktif seluruh elemen warga.
Apresiasi dan Estafet Pembangunan
Dalam suasana sidang yang hangat tersebut, Amithya mengajak seluruh pihak untuk tidak melupakan jasa para pendahulu. Ia menekankan bahwa setiap capaian yang dinikmati warga Malang hari ini adalah buah dari kebijakan dan keringat para pendiri serta pengelola kota di masa lalu.
-
Refleksi Sejarah: Menjadikan masa lalu sebagai bahan evaluasi kebijakan.
-
Apresiasi Tokoh: Menghargai kontribusi pemimpin terdahulu dalam membangun pondasi kota.
-
Inspirasi Masa Depan: Menggunakan capaian masa lalu sebagai pemantik inovasi pembangunan yang berkelanjutan.
“Capaian-capaian tersebut patut kita apresiasi dan dijadikan sumber inspirasi dalam melanjutkan estafet pembangunan. Tantangan ke depan tentu berbeda, namun semangatnya harus tetap sama,” imbuhnya.
Menuju Keselarasan Nasional
Lebih lanjut, Amithya mengingatkan bahwa arah pembangunan Kota Malang tidak boleh berjalan secara eksklusif. Integrasi dengan tujuan pembangunan nasional menjadi kunci agar Kota Malang tetap kompetitif di level regional maupun global. Penekanan pada sektor ekonomi kreatif, pendidikan, dan pariwisata yang selama ini menjadi identitas Malang diharapkan terus diperkuat melalui kebijakan-kebijakan legislatif yang pro-rakyat.
Sidang Paripurna ini pun ditutup dengan optimisme. Di usia yang ke-112, Kota Malang diharapkan tidak hanya menua secara angka, tetapi juga semakin matang dalam pelayanan publik dan semakin inklusif bagi seluruh warganya. Bagi Amithya, komitmen pembangunan ke depan adalah hutang sejarah yang harus dibayar lunas dengan kinerja nyata. (Her)





