Kepala DLH Kabupaten Malang Ahmad Dzulfikar Nurrahman: Pentingnya Lingkungan Dikantor Kedinasan

Gomalang.id -Malang,- Kepala DLH Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman menunjukkan komitmennya terhadap pentingnya lingkungan dikantor kedinasan.

Konsep Eco-Office yang ia terapkan tersebut mendapat kunjungan Bupati Malang, HM Sanusi yang datang bersama Sekda dan Kepala BKPSDM.

Ia kemukakan, bahwa Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang tidak hanya difungsikan sebagai tempat bekerja.

Fasilitas kantor tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran pengelolaan lingkungan melalui konsep Eco-Office.

Di depan Bupati Malang, Kepala Dinas yang masih muda dan berpotensi, akrab disapa Avi tersebut memaparkan, beberapa aspek lingkungan diterapkannya sekaligus diukur, mulai dari penggunaan energi dan air, pengelolaan sampah, hingga perubahan perilaku pegawai.

Konsep tersebut diharapkan dapat menjadi contoh yang bisa diterapkan di tempat lain, termasuk di lingkungan tempat tinggal keluarga.

“Bukan hal yang baru sebenarnya, namun kita tetap mengenalkannya yang kita sebut Eco-Office ini sebagai living lab atau laboratorium hidup. Karena bisa disaksikan, bisa dinikmati bersama, sekaligus juga berfungsi sebagai kantor,” terang Avi, Senin (31/08/2026) siang ,dihadapan awak media peliput usai menerima kunjungan Bupati.

Menurut Avi melalui konsep tersebut, masyarakat maupun pihak lain dapat melihat secara langsung bagaimana berbagai sistem ramah lingkungan diterapkan dalam aktivitas perkantoran.

Beberapa teknologi terkait pengelolaan lingkungan telah ia terapkan di kantor tersebut.

Di antaranya tehnologi solar cell sebagai sumber energi terbarukan,tehnologi sistem penampungan air hujan, smart irrigation berbasis Internet of Things (IoT), serta biogas untuk mengolah sampah organik.

Termasuk tentang tehnologi pengelolaan sampah,melalui pemilahan yang terintegrasi dengan bank sampah.

Untuk penggunaan energi dan berbagai aktivitas di dalam bangunan kantor, dipantau untuk mengetahui dampaknya terhadap lingkungan, termasuk emisi yang berhasil dikurangi

“Semuanya akan terpantau dan termonitor, sehingga kita tahu, berapa emisi yang kita kurangi tiap hari, termasuk yang bisa kita hitung dari perilaku teman-teman di kantor sini,” ungkap Avi.

Penerapan Eco-Office tidak berhenti pada teknologi. Pihak DLH Kabupaten Malang juga mendorong perubahan kebiasaan pegawai dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Penggunaan plastik sekali pakai dikurangi dengan menyediakan tumbler dan gelas yang dapat digunakan kembali.

Dalam kegiatan rapat yang melibatkan pihak eksternal, peserta juga diarahkan untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan selama kegiatan.

Pegawai juga didorong menggunakan sistem carpooling bagi mereka yang memiliki rute perjalanan berdekatan.

Penggunaan pendingin ruangan pun ditekan melalui penerapan konsep passive cooling untuk mengurangi kebutuhan energi.

Aktivitas pegawaipun tak luput dari perhatiannya, pihak DLH Kabupaten Malang menerapkan program Eco-Walk dengan target minimal 5.000 langkah setiap hari.

“Setiap Jumat, pegawai juga melakukan plogging, yakni berjalan sembari memungut sampah di sekitar kantor. Dari sampah yang terkumpul kemudian ditimbang sebagai bagian dari pemantauan kegiatan,” jelas Avi.

Dirinya juga mendorong perubahan kebiasaan pegawai dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Penggunaan plastik sekali pakai dikurangi dengan menyediakan tumbler dan gelas yang dapat digunakan kembali.

“Dalam kegiatan rapat -rapat kantor yang melibatkan pihak eksternal, peserta juga diarahkan untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan selama kegiatan,” terangnya.

Penjelasan lain,bahwa konsep paperless turut diterapkan dalam sejumlah administrasi melalui pemanfaatan tanda tangan digital.

Diterangkan olehnya, desain tempat dinas sengaja dibuat dengan konsep semi-residensial.

Tujuannya agar teknologi yang diterapkan tidak terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari dan dapat direplikasi masyarakat di tingkat rumah tangga.

Berharap kantor tersebut juga menjadi tempat masyarakat maupun pihak lain mempelajari penerapan teknologi ramah lingkungan secara lebih praktis.

Untuk solar panel, misalnya, pembelajaran tidak hanya sebatas melihat perangkat, tetapi mencakup kebutuhan daya, sistem pemasangan hingga proses perizinannya.

“Sebenarnya teknologi yang kita terapkan ini bukan teknologi yang canggih, namun tehnologi yang sederhana, tapi bisa diakomodir di level rumah tangga,” tandas Avi. (Rul/estu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait