MALANG, gomalang.id — Pemberdayaan anak berkebutuhan khusus kini makin kreatif. Sebanyak 15 anak dengan Down syndrome dan tunagrahita antusias mengikuti pelatihan pembuatan Topeng Malangan di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Kedungkandang, Kota Malang, Sabtu (27/6/2026).
Gebrakan yang diinisiasi oleh Sanggar Budaya Anak Nareswari ini mengawinkan misi pelestarian budaya lokal dengan kemandirian ekonomi bagi kelompok disabilitas.

Selama tiga jam, para peserta diajak menyelami proses pembuatan topeng menggunakan cetakan resin. Agar ramah difabel, metode pembuatan pun dimodifikasi. Sang pelatih, Ndaru Lazarus, menerapkan pendekatan bertahap, mulai dari pengenalan bentuk hingga penggunaan bahan yang dijamin aman, sembari didampingi penuh oleh orang tua dan fasilitator.
“Kami ingin memberikan keterampilan yang memiliki nilai jual tinggi agar bisa dipraktikkan secara mandiri di rumah. Goal-nya jelas, ini jadi bekal kemandirian mereka,” ujar Brelliane Semesta Pratiwi, perwakilan panitia kegiatan.
Menembus Ruang Publik dan Pasar Seni
Menariknya, karya-karya apik hasil kreasi para peserta tidak akan berakhir di ruang latihan. Hasil kerajinan mereka dijadwalkan melenggang di sejumlah ruang publik strategis, mulai dari Galwei DPRD Kota Malang, Hotel Mercure dan Pasar Seni Bareng hingga Taman Krida Budaya Jawa Timur. Pameran ini disiapkan sebagai panggung apresiasi sekaligus bukti nyata kreativitas anak-anak difabel kepada masyarakat luas.
Pelatihan ini sendiri merupakan fase kedua dari program berkelanjutan Sanggar Nareswari. Sebelumnya, mereka telah sukses menggelar pelatihan batik sampur pada Mei 2026. Sementara untuk fase pemungkas, yaitu pelatihan mewarnai topeng, siap digelar pada Juli mendatang.

Menuju Puncak Festival Inklusif
Seluruh rangkaian pembelajaran komprehensif ini akan bermuara pada gelaran akbar Festival Sendratasik Topeng Malangan pada 1 Agustus 2026. Festival tersebut bakal dimeriahkan oleh:
-
Parade tari kolosal.
-
Pertunjukan drama tari musik (Sendratasik).
-
Bazar UMKM inklusif yang memamerkan produk karya para peserta.
-
Program berdampak ini berhasil berjalan berkat kucuran Dana Abadi Kebudayaan 2025 untuk kategori dukungan institusional, Sinergi kuat juga mengalir dari Kementrian Kebudayaan (Program danaindonesiana), Kementrian Keuangan (LPDP), serta Dana Indonesiaraya.
Sejak mengepakkan sayapnya pada 2017, Sanggar Budaya Anak Nareswari telah konsisten membangun ekosistem inklusif di Malang Raya. Hingga kini, mereka merangkul sekitar 50 anggota aktif dan berkolaborasi erat dengan 27 lembaga pendamping anak berkebutuhan khusus. Lewat tangan dingin mereka, Topeng Malangan kini bukan sekadar warisan tradisi, melainkan media pengungkit rasa percaya diri dan kemandirian finansial bagi anak-anak istimewa. (Ptr)





