Strategi Sri Untari Bisowarno Perkuat Ekonomi UMKM Malang Melalui Transformasi Koperasi

MALANG, gomalang.id– Di tengah dinamika ekonomi global, penguatan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi harga mati. Hal inilah yang ditegaskan oleh Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, dalam agenda Reses Masa Persidangan II Tahun 2025-2026 yang berlangsung di Gomalang, Malang, pada Jumat pagi (13/02/2026).

Bertempat di Graha Pradja Paramitha, Kantor Kopwan Setia Bhakti Wanita (SBW), politisi yang akrab disapa “Srikandi Pejuang” ini mengumpulkan ratusan pelaku UMKM dari wilayah Malang Raya untuk memberikan pencerahan mengenai pentingnya wadah ekonomi yang solid.

Koperasi: Senjata Utama Mencapai Kemerdekaan Ekonomi

Sebagai Ketua Komisi E DPRD Jatim yang juga pakar koperasi, Sri Untari menekankan bahwa perjuangan ekonomi rakyat tidak bisa dilakukan secara parsial atau sendirian. Menurutnya, UMKM membutuhkan ekosistem yang mendukung keberlanjutan modal dan pemasaran.

“Gambaran perjuangan ekonomi itu harus memiliki wadah yang jelas. Dan wadah yang paling tepat bagi rakyat adalah koperasi,” tegas Sri Untari di hadapan para peserta.

Beliau memaparkan bahwa koperasi bukan sekadar tempat simpan pinjam, melainkan instrumen untuk mencapai kemerdekaan ekonomi. Dengan berkoperasi, pelaku usaha memiliki daya tawar yang lebih kuat dan perlindungan risiko yang lebih baik.

Kisah Sukses Kopwan SBW: Dari 2.500 Menjadi 5.000 Anggota

Sri Untari berbagi inspirasi melalui perjalanan panjang memimpin Koperasi Setia Bhakti Wanita (SBW). Dimulai sejak tahun 2006 di kantor lama Jalan Trunojoyo, hingga kini menempati gedung megah di bagian utara Kota Malang, perjalanan SBW adalah bukti nyata kekuatan kemandirian.

Beberapa poin keberhasilan Kopwan SBW yang disoroti antara lain:

# Pertumbuhan Eksponensial: Lonjakan anggota dari 2.500 orang menjadi lebih dari 5.000 anggota pada tahun 2012.

# Aset Mandiri: Pembangunan gedung Graha Pradja Paramitha senilai Rp12 Miliar dilakukan secara swadaya tanpa bantuan pihak luar.

# Sistem Tanggung Renteng: Inilah filosofi dasar SBW, di mana kebersamaan dan gotong royong menjadi jaminan keberlangsungan usaha anggota.

“Di Kopwan SBW, modal tidak akan ‘mobat-mabit’ (berantakan). Sebaliknya, modal akan laksana sinar matahari terbit yang cahayanya memantulkan keberhasilan bagi seluruh anggota,” tambahnya puitis.

Diskusi Interaktif: Koperasi yang Inklusif

Dalam sesi tanya jawab, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Salah satu hal menarik muncul ketika seorang pelaku usaha pria bertanya tentang peluang bergabung dengan SBW yang selama ini identik dengan perempuan. Sri Untari dengan tegas menjawab bahwa sistem koperasi ini inklusif dan terbuka untuk kolaborasi yang memperkuat ekonomi kerakyatan.

Hal ini memberikan angin segar bagi para pelaku UMKM rumahan yang selama ini merasa kesulitan mengakses permodalan yang aman dan transparan.

Testimoni Pelaku UMKM: Harapan untuk Masa Depan

Dampak positif reses ini dirasakan langsung oleh Lili, pemilik UMKM Lili Gembira Karya (produk abon) asal Lesanpuro, Kedungkandang. Lili mengaku sangat terinspirasi oleh sosok Sri Untari yang dianggap sebagai role model perempuan tangguh.

“Hari ini sangat istimewa. Saya mendapat wawasan baru dan jadi lebih semangat mencontoh Bu Untari. Beliau adalah pakar yang mampu membuktikan bahwa perempuan bisa mengelola organisasi besar secara profesional,” ujar Lili dengan bangga.

Lebih lanjut, Lili menyatakan dukungannya agar Sri Untari kembali melanjutkan pengabdiannya di kursi legislatif pada periode 2029 mendatang. Menurutnya, kepercayaan (trust) masyarakat muncul karena kerja nyata yang sudah terbukti. (Rul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait