MALANG, gomalang.id – Di bawah langit Lembah Dieng yang masih menyisakan sisa embun pagi, aroma kopi arabika menyeruak di antara obrolan ringan jajaran pengurus Koperasi Konsumen Satria Budi Wanita (Kopmen SBW). Rabu, 25 Maret 2026, suasana tak seperti hari kerja biasanya. Alih-alih berkutat dengan angka dan laporan manajerial, keluarga besar koperasi yang masyhur dengan sebutan Kopwan SBW ini memilih bersimpuh dalam lingkaran silaturahmi.
Momen Idul Fitri 1 Syawal 1447 H menjadi jangkar bagi mereka untuk menggelar Halal bi Halal. Pilihan tempatnya pun tidak sembarangan: Kedai Kopi Cahaya Baru 3. Sebuah oase modern dengan konsep terbuka yang memadukan lanskap alam pegunungan dengan estetika industrial minimalis—tipikal tempat diskusi favorit kaum milenial masa kini.

Namun, kedai ini bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah manifestasi dari sayap bisnis Kopmen SBW. Sebuah unit usaha yang menjadi bukti bahwa koperasi tak lagi sekadar simpan pinjam, melainkan entitas bisnis yang adaptif terhadap selera zaman.
Kehangatan di Tengah Ketidakhadiran sang Srikandi
Matahari mulai meninggi ketika Mirna, Ketua 1 Kopmen SBW, berdiri di tengah jajaran pengurus. Didampingi Sekretaris dan Bendahara, raut wajahnya menyiratkan kepuasan. Baginya, memilih ruang terbuka sebagai lokasi acara adalah upaya untuk memecah kekakuan birokrasi organisasi.
”Ada energi berbeda saat kita menyatu dengan alam. Harmonisasi antaranggota terasa lebih rekat, lebih jujur,” ujar Mirna kepada awak media. Ia menekankan bahwa suasana kekeluargaan adalah modal sosial utama yang membuat SBW tetap kokoh di tengah dinamika ekonomi nasional.
Namun, ada satu kursi yang kosong di deretan depan. Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP, Ketua Umum yang kerap dijuluki sebagai “Srikandi Koperasi Indonesia,” berhalangan hadir. Kelelahan setelah mengawal agenda organisasi yang padat memaksa tokoh penggerak ekonomi kerakyatan ini untuk mengambil jeda demi memulihkan kondisi kesehatan.
”Meskipun Ibu Ketua Umum tidak hadir secara fisik, semangat dan energi beliau terasa nyata di sini. Kami semua mengirimkan doa terbaik agar beliau segera pulih dan kembali memimpin kami dengan visi-visi besarnya,” tambah Mirna dengan nada yang lebih melunak.

Tausyiah dan Tradisi Gotong Royong
Acara yang berlangsung dari pagi hingga siang itu tak sekadar menjadi ajang bermaaf-maafan. Nuansa spiritualitas tetap dijaga melalui tausyiah yang disampaikan oleh internal mereka sendiri, Ustadzah Dra. Hj. Ulfa Zaen, M.Pd. Dalam khotbah singkatnya, ia mengingatkan bahwa kekuatan koperasi terletak pada simpul ukhuwah—sebuah ikatan persaudaraan yang melampaui kepentingan profit semata.
Kegiatan rutin tahunan ini tetap terlaksana dengan khidmat meski sebagian besar masyarakat masih dalam suasana mudik Lebaran. Bagi anggota SBW, Halal bi Halal adalah ritual wajib untuk menyelaraskan kembali niat (re-setting) sebelum kembali memutar roda organisasi.
Acara ditutup dengan sesi ramah tamah yang cair. Gelak tawa pecah saat sesi foto bersama di sudut-sudut estetis Kedai Kopi Cahaya Baru 3. Di sana, di antara aroma kopi dan sejuknya angin Malang, Kopmen SBW kembali menegaskan jati dirinya: sebuah institusi yang bergerak dengan napas kegotong-royongan, menuju kejayaan yang berkelanjutan. (Rul)





