Malang, Gomalang.id – Tradisi Muludan atau peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia selalu sarat akan nilai spiritual dan kebudayaan lokal. Salah satu manifestasi yang paling melekat dalam ingatan masyarakat adalah tradisi membawa buah-buahan serta hasil bumi ke masjid, mushala, atau tempat pertemuaan warga. Kegiatan ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah simfoni spiritual yang menyatukan nilai-nilai keagamaan dengan kearifan lokal.
Makna dan Filosofi Tradisi Buah Muludan
Secara mendalam, tradisi membawa buah-buahan saat peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW menyimpan berbagai nilai filosofis:
Ungkapan Rasa Syukur: Mengumpulkan hasil panen dan buah-buahan merupakan bentuk pengakuan manusia atas kemurahan Allah SWT. Wujud syukur ini direfleksikan dengan membawa rezeki terbaik yang dimiliki ke tengah-tengah majelis.
Semangat Sedekah dan Kebersamaan: Makanan dan buah-buahan yang kerap dirangkai menyerupai gunungan atau diletakkan dalam wadah khusus (ancak) bermaksud untuk dibagikan kembali. Hal ini melatih jiwa dermawan dan mempererat tali silaturahmi antawarga.
Simbolisme Berkah: Buah-buahan yang disatukan di dalam majelis dan diiringi dengan pembacaan salawat serta doa dipercaya menyerap keberkahan. Ketika dikonsumsi bersama, ada harapan spiritual untuk memperoleh kebaikan jasmani dan rohani.

Fenomena kebudayaan ini tersebar luas di kawasan Jawa Timur—seperti tradisi Ancak Agung di Situbondo, hingga perayaan khas di Jember, Madura, Lumajang, dan Malang.
Kehangatan Maulid Nabi di Pandanlandung, Malang
Kemeriahan tradisi ini terekam jelas pada Selasa malam (26/08/2026), yang bertepatan dengan malam 12 Rabiul Awal 1448 Hijriyah. Antusiasme tinggi ditunjukkan oleh masyarakat Desa Pandanlandung, khususnya warga RW 02/RT 06, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Sejak sore hingga malam hari, warga dari berbagai usia berbondong-bondong memadati tempat ibadah dan area pertemuan setempat.

Sambil memboyong keluarga, mereka datang membawa tumpeng serta bermacam-macam buah segar sebagai simbol penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Perayaan Maulid Nabi memang sangat identik dengan buah-buahan, sehingga buah yang dikumpulkan menjadi simbol keberkahan yang paling dinanti oleh jamaah yang hadir,” ungkap Andre, warga Gang Guyup Rukun RT 06.
Dalam prosesinya, ratusan buah dari setiap rumah disatukan dalam satu tempat. Penyatuan buah-buahan ini melambangkan penyatuan niat seluruh warga untuk bersama-sama mengagungkan Rasulullah SAW.
Setelah rangkaian pembacaan kitab Maulid Syaroful Anam dan pemanjatan doa bersama selesai, panitia koordinator membagikan serta menukarkan kembali buah-buahan tersebut secara tertib dan adil sesuai dengan porsi yang dibawa masing-masing warga.
Rangkaian acara ditutup dengan harapan besar yang disampaikan oleh pemuka agama setempat.
“Semoga melalui peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diiringi salawat ini, kita semua senantiasa mendapat berkah dan memperoleh syafaat beliau kelak di hari kiamat,” tutur Bapak Juli, selaku imam acara Muludan RT 06/RW 02 Desa Pandanlandung.
(Rul)








